Muhammad bin Sirin bercerita, " Aku menikahi seorang wanita dari Bani Tamim. Setelah malam resepsi berlalu, aku memasuki kamarnya, sedang dia duduk di dekat pintu kamarnya. Akupun merentangkan kedua tanganku. Dia berkata, "Sabarlah, jangan tergesa-gesa". Kemudian dia memuji Allah dan berkata, "Sesungguhnya Allah menciptakan sebuah ilmu sesuai dengan kehendak-Nya. Dan sungguh telah sampai padaku suatu ilmu, bahwasanya jika seorang suami memasuki rumahnya, maka dia diperintahkan untuk melaksanakan shalat dua raka'at dan istrinyapun diperintahkan untuk shalat di belakangnya. Dan jika dia telah menyelesaikan sholatnya, maka dia dianjurkan untuk berdo'a : Ya Tuhanku, semoga Engkau menjadikan keluargaku berkah untukku. Dan semoga Engkau menjadikan aku sebagai berkah bagi keluargaku. Tuhanku, jadikanlah rizqiku dengan perantara mereka, dan jadikanlah rizqi mereka dengan perantara diriku. Tuhanku, karuniakanlah aku rasa cinta dan sayang kepada mereka. Dan karuniakan pula mereka rasa cinta dan sayang kepadaku. Semoga Engkau jadikan kami saling mencintai'." Ibnu Sirin melanjutkan ceritanya : "Maka Aku segera melaksanakan apa yang dia katakan. Dan saat aku menyelesaikan semuanya, akupun mendekatinya lagi. Namun lagi-lagi dia berkata : "Sabarlah…jangan tergesa-gesa. Sesungguhnya jika seorang suami ingin menyetubuhi istrinya, maka dia diperintah Allah untuk berdo'a terlebih dahulu dengan do'a : 'Ya Tuhan kami, jauhkanlah syaithan dari kami. Dan jauhkanlah syaithan dari rizqi-Mu kepada kami. Jangan Engkau jadikan satu bagianpun untuk syaithan ke dalam diri kami' ". Ibnu Sirin meneruskan : "Lalu akupun melakukannya. Dan setelah itu aku selalu merasakan kelembutan, kasih sayang dan semua kebaikan."
| |
|