Ketika menjelajah stand-stand di Islamic
Book Fair, terkadang beberapa pengunjung ada yang sengaja mencari buku murah.
Motifnya tentu mereka ingin membaca dan menambah ilmu tapi apa daya kantong
cekak.
Memang pameran buku adalah moment yang
tepat untuk menjual buku murah, sebab buku yang diproduksi oleh penerbit tidak
melalui jalur distributor yang mentolo dalam meraup keuntungan.
Bayangkan, toko-toko besar umumnya meminta keuntungan 40-60%. Jika sebuah buku,
misalnya di Gramedia, berbandrol Rp. 50.000,00 berarti penerbit menjual buku
tersebut ke distributor dengan harga Rp. 20.000,00 sampai 30.000,00 sesuai
kesepakatan. Artinya, buku-buku menjadi sangat mahal karena distributor terlalu
besar mengambil keuntungan.
Terkadang kita heran, kenapa Indonesia
negara penghasil kertas tetapi harga buku justru mahal? Sedangkan di Mesir yang
kertas masih impor dari negara, buku di sana dijual murah? Sebagai ilustrasi, di
Indonesia buku setebal 300 halaman soft cover dibandrol sekitar Rp. 30.000.
Padahal di Mesir dengan ketebalan seperti itu dibandrol sekitar 8 Pounds Mesir
atau sekitar Rp. 15.000. Kenapa buku di Indonesia yang masyarakatnya 20% lebih
di bawah angka kemiskinan, masih mahal? Kalau demikian, kapan negara kita bisa
maju?
Jawabnya, banyak faktor yang menyebabkan
hal itu. Seperti diterangkan peran distributor yang terlalu banyak mengambil
untung, biaya produksi yang tinggi juga tidak ada kepedulian pemerintah dalam
hal ini. Ironisnya, buku-buku pelajaran yang merupakan buku konsumsi
"wajib" bagi para anak sekolah dijual sangat mahal. Dengan kertas
yang tidak bagus—terkadang memakai kertas buram—covernya juga biasa saja tetapi
harganya sangat mahal. Isunya, kondisi seperti ini disebabkan pemain buku
pelajaran harus mengeluarkan uang sogokan kepada pihat terkait agar buku yang
diproduksinya menjadi "kurikulum wajib" di sekolahan. Wallahu
A'lam.
Sebagai perbandingan, di Mesir—tempat
penulis menimba ilmu di sana selama empat tahun—pemerintah mempunyai kebijakan
untuk memasarkan buku murah yang terkenal dengan program "Mahrajan
Al-Qiraah" (Pameran baca buku). Setiap bulannya tidak kurang dari 10
buah buku didistribusikan ke toko buku milik pemerintah maupun lapak-lapak
penjual koran dan majalah. Kebanyakan buku yang sangat ilmiah dan dijual sangat
murah. Misalnya Rasail Ibnu Rusyd fi Ath-Thibb (Surat-surat Ibnu Rusyd
dalam hal kedokteran) sekitar 2000 halaman dijual 10 ribuan.
Pihak swasta di sana juga punya kepedulian
yang sama, misalnya Al-Azhar—yayasan yang bergerak di bidang dakwah dan
pendidikan agama—menerbitkan buku-buku saku maupun majalah dengan harga yang
sangat terjangkau sehingga masyarakat dengan kantong tipis juga bisa menikmatinya.
Padahal, kalau kita cermati perekonomian Mesir dengan Indonesia tidak beda
jauh. Apalagi Jakarta yang berdiri mal-mal megah, Anda tidak akan pernah
menjumpai mal-mal seperti itu di Mesir—kota tua namun pendidikan dijunjung
tinggi.