Tahun ini merupakan tahun pertama saya menikmati bulan puasa di Jakarta. Sebelumnya, selama empat tahun berada di luar, tiga kali menikmati puasa di Mesir dan sekali menikmati puasa di Arab Saudi.
Suasana puasa di Mesir (2004, 2005, 2006) yang paling mencolok adalah adanya tempat-tempat yang menyediakan buka secara gratis yang dikenal dengan Maidaturrahman (Suguhan dari Allah yang Maha Penyayang). Hampir di setiap masjid besar maupun di jalan-jalan penduduk sana berlomba untuk mengejar pahala dengan memberikan buka secara gratis. Selain itu, di sana semua math’am (rumah makan), dan penjual makanan di sepenjang jalan tidak ada yang buka kecuali hampir waktu maghrib. Dan, tidak ada orang yang makan atau merokok di pinggir jalan, meskipun beragama lain. Padahal jumlah umat Islam di negara ini “cuma” 65 %.
Selain itu, menjelang buka puasa, setengah jam sebelum buka, kita akan kesulitan mencari kendaraan umum, baik angkot maupun taksi. Sebab, rata-rata supirnya sudah pulang ke rumah untuk berbuka bersama keluarga atau pergi ke Maidaturrahman, mengantri makanan buka gratis.
Ada hal yang beda dengan di Indonesia adalah masyarakat di sana sangat antusias menyambut bulan Ramadhan, bukan hari lebaran. Pada bulan Ramadhan mereka menyiapkan aneka makanan untuk dimakan keluarga maupun dihadiahkan kepada orang lain, bahkan sebagian besar keluarga Mesir menabung untuk mempersiapkan bulan Ramadhan. Sedangkan Hari Raya Lebaran, di sana praktis hanya shalat Ied selain itu tidak ada lagi kegiatan semisal Silaturrahmi, Halal bi Halal, atau sungkem (ke Camer J).
Sedangkan di Saudi—khususnya di Makkah dan Madinah—bulan puasa benar-benar bulan ibadah. Bagaimana tidak, setiap shalat kita dituntut untuk shalat berjamaah. Di Masjidil Haram selalu saja ramai dengan orang Thawaf tidak peduli subuh, siang, malam, selalu penuh. Sementara rombongan Ihram yang ke Tan’im juga tidak ada putus-putusnya. Lebih-lebih setiap waktu shalat tiba, Masjid yang bisa menampung puluhan ribu itu sesak dengan jamaah shalat, terutama shalat Maghrib, Isya`, Tarawih dan Shalat Qiyam (11 rakaat).
Dahulu saya (2003) tidak bisa membayangkan apa bisa kuat ikut shalat Tarawih yang dua puluh rakaat sementara setiap harinya 1 juz? Belum lagi shalat Qiyam yang setiap rakaatnya dibaca seperempat Juz. Membayangkannya saja sudah capek, tapi ketika benar-benar melaksanakannya ternyata tidak seperti itu. Saya seakan ikut irama orang-orang yang dengan khusyuk mendengarkan suara merdu Syaikh Sudais dan Syaik Suraim melantunkan ayar-ayat Al-Qur`an.
Sementara susana puasa di Jakarta (2007) benar-benar berbeda. Kedai-kedai makanan banyak yang masih buku dengan telanjang. Ada juga yang agak malu-malu sehingga yang kelihatan dari luar adalah kaki-kaki orang tanpa ketahuan kepalanya. Tarawih cuma ramai pertamanya saja. Setelah seminggu puasa, masjid-masjid mulai sepi. Dan, memang sudah menjadi tradisi di Indonesia adalah yang dinantikan bukannya bulan Ramadhan, tetapi hari raya. Bahkan, yang tidak kalah menyedihkan adalah banyak orang yang tidak puasa tetapi antusias menyambut hari raya. Bukankah hari raya merupakan anugerah dan hadiah dari Allah kepada umatnya yang telah bersusah payah melaksanakan puasa sebulan lamanya?
Ironisnya lagi, di terminal-terminal bahkan di pinggir-pinggir jalan orang makan, minum, merokok, sepertinya tidak menjadi beban. Paling ironis lagi yang melakukan itu adalah orang-orang Islam sendiri. Kalau orang-orang yang ber-agama (baca; KTP) Islam sudah tidak lagi menghormati ajaran agamanya, lantas bagaimana umat agama lain mau menghormati agama Islam?