Bangsa Indonesia terkenal dengan alamnya yang subur makmur. Namun, akhir-akhir ini kita sering miris mendengar bangsa ini harus impor beras, kedelai, terigu, dan hasil-hasil pangan yang pada masa lalu kita selalu berlebihan. Kita juga miris ada sebuah keluarga yang mati kelaparan karena tidak punya sebiji beras pun untuk dimakan. Minyak tanah yang harus antri, bahan bakar yang membumbung tinggi, dan kebutuhan-kebutuhan yang semakin hari semakin tak terjangkau menjadi masalah kita bersama.
Sebenarnya apa yang salah dari kita? Bukankan pemimpin kita adalah orang-orang pandai sedangkan para pejabat adalah orang yang berpendidikan? Jawabnya, karena mereka memimpin (baca: menguasai) untuk mengeruk kekayaan negara demi memperkaya diri sendiri. Kenapa mereka seperti itu? Jawabnya, karena hati nurani mereka sudah mati. Mereka sudah tidak peduli dengan harta haram, tidak peduli dengan kesengsaraan rakyat, dan tidak peduli dengan Hari Perhitungan amal di akhirat kelak.
Rasanya sampai saat ini kita belum menemukan siapa calon pemimpin yang akan membawa masyarakat Indonesia hidup layak bahkan bisa mencapai taraf sejahtera. Sampai saat ini yang kita dengar dari calon pemimpin adalah janji-janji palsu dan slogan-slogan yang tidak sesuai dengan realita. Mungkin kita harus merelakan mereka-mereka yang “sudah karatan” dan mulai melirik ke generasi masa depan.
Untuk itulah, yang harus kita persiapkan adalah generasi penerus yang akan menjadi tokoh-tokoh di kemudian hari. Pepatah Arab mengatakan, “Syababul Yaum Rijalul Ghad” (Pemuda Sekarang adalah Tokoh Masa Depan). Generasi penerus yang sekarang masih berumur 15-20 tahun itu harus dipersiapkan mental dan spiritualnya, supaya ketika mereka menjadi pemimpin akan menjadi pemimpin yang amanah dan membawa manfaat sebesar-besarnya.
Salah satu sasaran 3T (Tobat, Tasbih, Tahajjud) adalah para murid-murid sekolah setingkat SMU, yaitu STM, SMK, maupun Madrasah Aliyah. Mereka harus dibina mental dan spiritualnya dengan metode yang ditemukan oleh Bapak Zaini Ali Akbar untuk mendekatkan diri ke hadirat Ilahi. Berkat izin Allah, setelah beberapa sekolah menerapkan 3T, banyak siswanya yang semula berpacar-pacaran, sekarang tidak ada lagi yang seperti itu. Musholla sekolah pun jam 7 sudah penuh dengan siswa yang melaksanakan shalat Dhuha, dan shalat Dzuhur di Mushalla sekarang bertambah full, karena hampir semua siswa mengikuti jamaah tanpa dipaksa!
Metode ini menganalogikan kepada saat Rasulullah mengalami peristiwa Syaqqus Shadr (Pembelahan Dada). Waktu itu, sebelum dimi’rajkan ke langit tujuh dan Sidratul Muntaha, Rasulullah dibelah dadanya oleh dua orang malaikat yang kemudian mengeluarkan hati beliau dan mencucinya dengan air zam-zam, kemudian memenuhinya dengan iman dan hikmah. Dari sinilah muncul metode 3T. Artinya, orang yang ingin dekat kepada Allah perlu “membedah dadanya” dengan melaksanakan Shalat Taubat, karena taubat berarti membedah kemaksiatan-kemaksiatan yang selama ini mengendap di dalam dada. Kemudian “mencuci dada” itu dengan Shalat Tasbih, karena dengan bertasbih, kita sudah mensucikan Allah Dzat Yang Maha Suci, sekaligus mensucikan diri dari dosa-dosa. Selanjutnya diteruskan dengan pemenuhan “iman dan hikamah” yang terfleksi dalam Shalat Tahajjud. Karena, pada sepertiga malam, Allah turun ke bumi untuk mengabulkan doa orang-orang yang meminta, dan mengampuni orang yang bertaubat. Dengan Shalat Tahajjud pula kita dijanjikan akan mendapatkan “Maqaman Mahmudan” (Derajat yang Terpuji di sisi Allah).
Marilah kita semua mendekatkan diri kepada Allah, karena dengan mendekatkan diri, kita akan menjadi manusia yang pantas mendapat gelar “Khalifatullah fil Ardhi” (Mandataris Allah di muka bumi), juga menjadi “Khaira Ummah” (Sebaik-baik ummat) yang menegakkan amar makruf, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Semoga!