Rasulullah dilahirkan sebagai pembawa rahmat sekalian alam. Beliau diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Beliau adalah manusia, tetapi bukan manusia biasa. Ibarat batu, ada batu permata yang memancarkan cahaya, ada pula batu sungai yang tidak berharga. Beliau menunjukkan umatnya dari kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang.
Mulai awal bulan Rabi’ul Awal, aktivitas masjid, majlis taklim, dan pengajian kembali marak demi memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Kenapa harus diperingati? Bukankah Rasulullah tidak menganjurkan para sahabatnya untuk memperingati kelahiran beliau? Para sahabat juga tidak ada yang memperingati kelahiran beliau? Bukankah ini merupakan perbuatan bid’ah?
Sering kali kita mendengar pertanyaan seperti itu, atau yang senada seperti itu. Ada yang dengan bahasa halus, ada pula yang kasar, bahkan tidak jarang dengan bahasa yang keluar dari akhlak Islami.
Memang pada zaman dahulu para sahabat tidak memperingati kelahiran Rasulullah saw. Peringatan ini—menurut Syaikh Athiyyah Saqar, mufti Negara Mesir—pernah dilakukan pada masa Daulah Fathimiyyah, kemudian ditiadakan sementara waktu, dan dilaksanakan kembali pada masa Daulah Ayyubiyyah yang menjadikan Maulid Nabi sebagai peringatan resmi pemerintah setempat yang kala itu dijabat oleh Khalifah Muzhaffaruddin Abu Sa’id Kukberi bin Zainuddin Ali bin Tabkatakin. Dan sampai sekarang, Masjid Al-Azhar Mesir senantiasa menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi sebagai sarana dakwah untuk memperingati perjuangan beliau menegakkan agama Islam di muka bumi.
Tentang hadits yang sering digunakan untuk menghukumi perkara yang baru dan mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat, maka alangkah baiknya jika kita merujuk pada syarah hadits tersebut. Imam An-Nawawi salah satu pensyarah hadits hadits tersebut, yaitu Kitab Shahih Muslim, berkata,
قَالَ الْعُلَمَاء : الْبِدْعَة خَمْسَة أَقْسَام : وَاجِبَة ، وَمَنْدُوبَة وَمُحَرَّمَة ، وَمَكْرُوهَة ، وَمُبَاحَة . فَمِنْ الْوَاجِبَة : نَظْم أَدِلَّة الْمُتَكَلِّمِينَ لِلرَّدِّ عَلَى الْمَلَاحِدَة وَالْمُبْتَدِعِينَ وَشِبْه ذَلِكَ . وَمِنْ الْمَنْدُوبَة : تَصْنِيف كُتُب الْعِلْم ، وَبِنَاء الْمَدَارِس وَالرُّبُط وَغَيْر ذَلِكَ . وَمِنْ الْمُبَاح : التَّبَسُّط فِي أَلْوَان الْأَطْعِمَة وَغَيْر ذَلِكَ . وَالْحَرَام وَالْمَكْرُوه ظَاهِرَانِ
Para ulama mengatakan: bid’ah itu ada lima macam; wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah. Bid’ah yang wajib contohnya adalah penyusunan dalil-dalil yang dilakukan oleh ulama ilmu kalam untuk menolak tuduhan orang-orang ekstrim dan lainnya. Bid’ah yang sunah contohnya adalah mengarang buku-buku pengetahuan, mendirikan madrasah, dan sebagainya. Bid’ah yang mubah contohnya adalah membuat makanan beraneka warga dan sebagainya. Sedangkan bid’ah yang haram dan makruh sudah sangat jelas. (Lihat Syarah An-Nawawi hadits ke 1435)
Sedangkan dalam syarah Kitab Shahih Al-Bukhari, (pensyarahnya adalah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani) disebutkan:
الْمُحْدَثَات ضَرْبَانِ مَا أُحْدِث يُخَالِف كِتَابًا أَوْ سُنَّة أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَة الضَّلَال ، وَمَا أُحْدِث مِنْ الْخَيْر لَا يُخَالِف شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَة غَيْر مَذْمُومَة
Sesuatu yang baru itu ada dua macam; (pertama) sesuatu yang menyalahi Kitab (Al-Qur`an), Sunnah (Al-Hadits), Atsar (perkataan sahabat Nabi), atau Ijma’ (consensus para ulama), bid’ah semacam ini adalah sesat. Sedangkan (yang kedua) sesuatu yang baik dan tidak menyalahi dari itu semua, maka merupakan sesuatu yang baru tetapi tidak tercela. (Lihat Syarah Ibnu Hajar Al-Asqalani hadits ke 6735)
Dari dua dalil tersebut kiranya cukup untuk tidak terlalu memperuncing sesuatu yang menjadi khilafiah, demi terciptanya ukhuwwah.
Sedangkan situasi sekarang ini, dimana orang-orang tua dilalaikan oleh kesibukan pekerjaannya, dimana para pemuda sudah tidak mengenal lagi sejarah Nabinya, dimana umat Islam tidak punya semangat untuk menerapkan kembali syariat dalam kehidupan sehari-harinya. Maka, moment kelahiran Rasulullah saw perlu dijadikan sebagai peringatan untuk meneladani kehidupan beliau dan perjuangan beliau menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, Maulid Nabi akan membentuk pribadi seorang Hamba Rabbani.